Text
Hujan Untuk Pelangi
Kisah seorang siswi kelas XII, SMA Satu Nusa Bali ini sangat miris untuk dibaca. Peristiwa Bom Bali 2 tahun 2015 lalu, telah menghancurkan harapan hidupnya. Alisya Selfira Hanafi yang sering dipanggil Alisya, kehilangan ibundanya, ikut terkena bom bali 2. Akibat kejadian itu, ayah tercintanya mengalami syok berat, yang berakibat sangat membenci apa saja yang berbau “Kota Bali”.
Saat kejadian bom Bali, Alisya baru berumur 7 tahun. Waktu itu, ayah dan mamanya pergi ke Bali untuk menghadiri pesta pernikahan keluarga. Nasib kurang baik menimpa ibundanya Alisya, ia ikut menjadi korban bom Bali 2.
Kini, Alisya sudah duduk di kelas XII, SMA di kota Jakarta. Ayahnya yang semula sangat ceria, sejak ditinggal bunda, menjadi murung. Ayah sebelumnya seorang penulis hebat, sekarang sangat membenci hal-hal yang berbau tulis menulis.
Kamar kerja ayahnya, yang biasa dipergunakan untuk menulis semasa ibundanya masih ada, dikunci rapat. Bahkan bertahun-tahun Alisya tidak mengerti apa yang ada dalam kamar itu. Ayahnya betul-betul membenci semua kenangan yang berkaitan dengan masa indah dengan ibundanya.
Akibat terlalu benci terhadap peristiwa bom Bali, teman Alisya bernama Fatih yang kebetulan berasal dari Bali yang pindah ke sekolah sama dengan Alisya ikut kena dampaknya. Ayahnya sangat benci Fatih, lantaran berasal dari Bali.
Suatu hari, di sekolah Alisya mengadakan lomba menulis, Alisya ditunjuk untuk mewakili sekolahnya. Alisya ingin mewarisi kehebatan Ayahnya. Alisya memasuki ruang kerja ayahnya yang sudah puluhan tahun tidak dibukanya. Ruangan itu tempat kerja ibundanya dan ayahnya saat menjadi penulis hebat waktu ibundyan masih ada. Tindakan Alisya yang memasuki ruang kerja Ayahnya tanpa izin membuat ayahny marah.
Kemarahan ayahnya dilampiaskan, mengurung Alisya di dalam kamar dengan cara mengunci dari luar. Tidak itu saja, ayahnya pergi meninggalkan Alisya dalam keadaan kamar terkunci. Saat pergi, ia membuang putung rokok yang apinya belum dimatikan.
Terjadi kebakaran rumah, Alisya tidak bisa keluar, Alisya pingsan terkurung dalam kamar. Fatih yang mengetahui peristiwa itu berusaha memadamkan api, tetapi api terlalu besar. Ayah Alisya pulang mendapati rumahnya sudah terbakar hebat. Ayah Alisya menerjang api, mencari Alisya yang terkunci dalam kamar. Nasib masih memihak pada Alisya dan ayahnya. Meskipun keduanya pingsan, berkat keberanian Fatih, kedua nyawa tertolong.
| P04751B | 899.221 AIN h | My Library (800 19) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain